Starwick, Picture Of Tomorrow Ep Kisah Panjang Dalam Enam Trek

0
194

Starwick tentu bukan nama baru di kancah musik independen Jakarta. Terbentuk sejak 2004, band yang pada 2011 solid dengan formasi Dindin (gitar vokal), Arvi (bass), Arman (gitar), dan Anto (drum, vokal) itu kerap dikenal sebagai salah satu kompatriot pengusung geek rock. Lama tak terdengar suaranya, kuartet itu kini kembali dengan sebuah debut mini album.

Masih mengemas distorsi rapat dengan ketukan yang catchy nan young-ish, EP yang berisi enam track ini bisa dibilang menjadi rangkuman dari perjalanan Starwick yang tidak bisa dibilang pendek! Menyebar materi di beberapa kompilasi bahkan situs-situs media sosial sejak 2004-2012, beberapa materi lama itu kini bertemu dengan sejumlah materi baru dalam sebuah rumah bernama Picture of Tomorrow.

“Sebenarnya sejak 2011 sampai 2013 itu kami terus melakukan proses recording, tapi memang belum waktunya aja kali yah, sehingga hanya lagu ‘Just Fair’ yang bisa diselamatkan dan kemudian menjadi
rilisan Bah! Records (A Typical Moment You Would be Happy to Put on Repeat Compilation, 2012),” kata Dindin.

Tak mau patah arang, utang rekaman yang sempat terbengkalai pun dilanjut dua tahun setelahnya Masih menjumpai kendala, proses rekaman pun dimulai kembali pada 2017. Semangat dan tanggung jawab jadi alasan mereka kenapa EP ini harus selesai.

“Sejak pertengahan 2015 kami selalu komit untuk workshop dan menyusun demo di rumah Anto, hampir setiap sabtu pagi sampai siang. Karena ngeband harus ada pertanggungjawabannya. Nah karya dalam bentuk EP pertama ini adalah bentuk tanggung jawab atas waktu, pemikiran dan alat-alat musik yang sudah digas selama band ini berdiri,” ucap Dindin diiringi tawa.

Arman menimpali: “Semangat kita masih muda dan enggak mau kalah sama anak muda”.

Dindin tak memungkiri kalau semakin dewasanya mereka dengan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga yang kini harus diemban membuat penggarapan EP ini memerlukan waktu yang panjang. Beruntung banyak teman-teman yang membantu.

Dalam penggarapan Album ini, ada Ario Hendarwan (The Adams) yang menjadi mixer merangkap produser mendampingi empat personel Starwick. Ada juga nama Rully Pratama Putra, Gigih Suryoprayogo (The Adams), dan Pandu Fathoni (The Adams, Morfem) yang menjadi sound engineer selama proses rekaman berlangsung di Studio Ario Bekasi and Studio Teras Belakang Tangerang. Adapun proses mastering dikerjakan oleh Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.

“Kami memang enggak punya time table rekaman. Tetapi setiap ada waktu luang dari pekerjaan dan keluarga pasti kita selalu ‘setor’ ke Ario, jadi secara standar dan estetika semua terjaga melalui satu pintu. Ario sebagai produser pun bisa menempatkan potensi personil untuk memaksimalkan sebuah karya. Banyak terima kasih untuk Ario Hendarwan. Sungkem!,” kata Dindin.

Tema yang diangkat dalam “Picture of Tomorrow” lebih dari separuhnya adalah tema sosial ketimbang personal. Pada lagu “Just Fair” misalnya, mereka hendak berpesan kalau korupsi tidak melulu hal besar tetapi juga sering terjadi dalam keseharian yang kerap dianggap sepele seperti mencontek atau buang sampah sembarangan. Ada pula cerita tentang sudut pandang mereka atas kasus yang menjerat politisi Demokrat, Muhammad Nazaruddin lewat lagu “How The Story Ends”.

Sedangkan trek “Picture of Tomorrow” yang jadi nama untuk EP ini diambil dari momen letihnya pulang kerja yang kemudian sirna karena keceriaan anak di rumah. Lewat lagu ini mereka hendak berpesan kalau masa depan harus lebih baik.

Mini album ini kemudian jadi penegas kalau kuartet yang senang disebut sebagai kelompok rock senangsenang ini masih ada dan terus berkarya. Tak cukup di debut “Picture of Tomorrow”, karya mereka pun akan dihadirkan lagi lewat EP sequel yang akan digarap kemudian.

“Konsepnya memang double EP dengan lagu-lagu lama di EP pertama dan lagu baru di EP kedua. Jadi target jangka pendeknya adalah perekaman lagu-lagu baru untuk materi EP kedua. Tapi tanggung jawab utama sebagai orang tua tetap harus dijaga. Maklum kita band bapak-bapak,” ucap Dindin sambil tertawa.

Ekspektasi besar pun disematkan dengan keinginan tur Indonesia bareng band idola mereka. “Atau mungkin rilis album penuh sampai manggung di India,” kata Arman.

Album yang covernya digarap oleh Ridwan Rau-Rau dan lay out oleh Eko Siswanto ini pun akan dirilis pada 21 April 2018 mendatang dalam format cakram padat. Enam trek yang penuh tenaga dengan kisah panjang pantang menyerah ini pun siap terhantar ke telinga anda. Jadi, siap untuk ber-geek rock lagi?